Earn the rewards with Arummi at T&S Club

tnsclub

Earn the rewards with Arummi at T&S Club

how is cow's milk allergy vs lactose intolerance

Perbedaan Alergi Susu Sapi dan Intoleransi Laktosa

Alergi susu sapi dan intoleransi laktosa merupakan dua jenis penyakit yang berbeda. Meskipun gejalanya hampir sama, alergi susu sapi dan intoleransi laktosa memiliki penyebab yang berbeda. Kenali lebih lanjut perbedaan alergi susu sapi dan intoleransi laktosa dari artikel ini.

Apa itu Alergi Susu Sapi dan Intoleransi Laktosa?

Pada kondisi normal, tubuh memiliki enzim laktase, enzim yang memecah laktosa menjadi gula sederhana, yaitu glukosa dan galaktosa dalam usus kecil yang digunakan oleh tubuh untuk membentuk energi.

Namun, pada pengidap intoleransi laktosa, tubuh tidak menghasilkan enzim laktase dalam jumlah yang cukup.

Intoleransi laktosa adalah gangguan pencernaan yang ditandai dengan ketidakmampuan usus dalam mencerna laktosa.

Hal ini membuat usus kecil tidak mampu memecah laktosa menjadi gula sederhana sehingga akan ikut terbawa ke dalam usus besar.

Akibatnya, laktosa tersebut akan difermentasi oleh bakteri dalam usus besar dan berubah menjadi gas yang memicu gangguan pencernaan.

Berbeda dengan intoleransi laktosa, alergi susu tidak dipengaruhi oleh produksi enzim tertentu, melainkan karena malfungsi sistem imun tubuh dalam mengidentifikasi protein susu sebagai sesuatu yang berbahaya.

Hal ini kemudian memicu sistem imun memproduksi antibodi imunoglobulin E (IgE) untuk menetralkan protein tersebut.

Ketika protein susu terdeteksi, antibodi IgE akan mengenalinya dan memberi sinyal untuk melepaskan histamin dan bahan kimia lainnya yang akhirnya menimbulkan tanda dan gejala alergi.

Perbedaan Alergi Susu Sapi dan Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa sering kali ditandai dengan diare, perut kembung, perut berbunyi, mual dan muntah, serta sering buang angin setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa, seperti susu atau produk olahannya.

Tiap penderita intoleransi laktosa dapat mengalami gejala yang berbeda-beda. Tingkat keparahan gejalanya juga tergantung pada seberapa banyak laktosa yang dikonsumsi.

Gejala biasanya muncul 30 menit hingga 2 jam setelah konsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa.

Sementara itu pada alergi susu terjadi akibat reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap protein yang terdapat pada susu.

Alergi susu menyebabkan gangguan saluran pencernaan dan sesak napas, serta ruam kemerahan yang terasa gatal.

Hal ini karena alergi melibatkan proses sistem imun sementara tidak pada intoleransi laktosa.

Cara Menangani Alergi Susu Sapi

Pada kasus alergi susu sapi, sebaiknya menghindari makanan yang mengandung protein susu sapi harus dihindari.

Bagi anak yang mengonsumsi ASI, hal tersebut tidak masalah tapi sebaiknya ibu menghindari makanan yang mengandung protein susu sapi.

One way is to choose formula milk that contains and is specially processed for babies with milk allergies. You can consume milk that has hydrolyzed protein content.

Contoh jenis susu seperti ini adalah susu EHF (extensively hydrolyzed formula) dan AAF (amino acid-based formula).

Susu EHF merupakan susu formula yang masih mengandung sebagian protein susu sapi, tapi protein tersebut telah dipecah sehingga lebih aman untuk bayi yang memiliki alergi susu sapi.

Sementara itu, susu AAF merupakan susu formula dengan kandungan asam amino khusus yang berbeda struktur kimianya dengan asam amino dari susu sapi, sehingga aman untuk bayi yang alergi susu sapi.

Beberapa penelitian menyatakan bahwa kandungan protein yang telah diolah secara khusus pada susu jenis EHF dan AAF memiliki risiko yang lebih rendah untuk menimbulkan reaksi alergi. Dengan demikian, jenis susu formula ini aman untuk dikonsumsi bayi yang memiliki alergi susu sapi.

Susu dengan kandungan EHF dan AAF juga dikenal baik untuk dikonsumsi bayi yang menderita intoleransi laktosa.

Kedua kandungan tersebut dinilai mampu membantu sistem pencernaan bayi untuk menyerap dan mencerna nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya.

Pada kasus tertentu, alergi susu dapat menimbulkan komplikasi serius, yaitu anafilaksis. Kondisi ini sangat berbahaya dan perlu segera ditangani oleh dokter.

Oleh karena itu, segeralah bawa anak ke dokter bila ia menunjukkan gejala anafilaksis, seperti bengkak pada kelopak mata dan bibir, sesak napas, atau pingsan, setelah mengonsumsi susu.

Cara Menangani Intoleransi Laktosa

Pada Intoleransi laktosa, disarankan untuk mengatur konsumsi susu dalam jumlah yang sedikit untuk mengendalikan kontak terhadap laktosa.

Pada produk susu lain seperti keju dan yoghurt, kandungan laktosa lebih sedikit karena adanya proses fermentasi oleh bakteri asam laktat. Bisa juga konsumsi susu dengan laktosa yang lebih sedikit atau tidak ada sama sekali.

Jika terjadi gejala intoleransi laktosa seperti diare, sebaiknya anak tidak dehidrasi, berikan cairan yang cukup agar diare tidak menimbulkan masalah lain.

Kenali Alergi Susu Sapi dan Intoleransi Laktosa!

Apabila anak menunjukan gejala atau tanda-tanda yang menjurus pada alergi susu sapi dan intoleransi laktosa, segera konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis terkait untuk segera melakukan penanganan sesuai dengan diagnosa yang tepat.

Selalu pilih produk yang tepat untuk menghindari terjadinya gejala yang tidak diinginkan! Contohnya adalah Arummi susu kacang mede.

Author

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Terbaru

Informasi Kesehatan & Nutrisi

Didukung Oleh

Hadirkan kebaikan Arummi lebih dekat ke rumahmu

Berawal sebagai merek yang hanya tersedia secara daring, Arummi telah tumbuh dengan stabil dan kini dengan bangga telah tersedia di 360+ supermarket pada area Jabodetabek, Bandung, dan Bali.